Kampung Kenawat ini tampil sebagai "Anomali Gayo" yang sangat elegan dan berkelas. Jika Giling Basah (Wet Hulled) tradisional sering diasosiasikan dengan karakter earthy atau spicy yang berat, kopi ini justru hadir dengan profil yang "Sopan dan Wangi". Kombinasi varietas klasik (Typica, Abyssinia) dengan roasting Light-to-Medium mengubah persepsi Gayo menjadi sesuatu yang tea-like namun berbobot.
Saat diseduh, impresi pertamanya langsung mengingatkan pada secangkir Earl Grey Tea mewah berkat aroma Bergamot yang aromatik—sebuah fitur langka untuk proses Giling Basah. Acidity-nya tidak tajam menggigit, melainkan hadir dalam bentuk citrus minyak kulit jeruk yang halus. Karakter proses Giling Basah-nya tidak hilang, tetapi bertransformasi menjadi noteMalt; memberikan sensasi rasa gandum atau biskuit yang gurih dan manis, menciptakan body yang bulat tanpa rasa "tanah" yang mengganggu.
Secara keseluruhan, kopi dengan FOB tinggi ini menawarkan pengalaman minum yang menenangkan dan sophisticated. Akhiran rasanya ditutup dengan manisnya Brown Sugar yang hangat dan panjang. Ini adalah kopi Gayo bagi mereka yang merindukan kehangatan karakter Sumatra, tetapi menginginkan kejernihan dan kompleksitas rasa yang biasanya hanya ditemukan pada kopi washed Afrika. Sebuah harmoni antara tradisi Giling Basah dan presisi roasting modern.